Just another Friendster Blogs weblog

December 9th, 2008 at 4:29 am and tagged  | Comments & Trackbacks (0) | Permalink
November 1st, 2008 at 6:56 am and tagged  | Comments & Trackbacks (2) | Permalink

We Love Yesus

TEMU REMAKA DEKANAT 1 Palembang

Kami anak-anak Misioner…..Kami sobat-sobat Tuhan Yesus….

Berdoa berderma itulah hidupku…Berkorban kesaksian so pasti

Ayolah kawan kita bersama…..Marilah membangun dunia baru

(Foto REMAKA 08 klik disini dan disini)

Lantunan lagu tersebut bergema di gedung Theresia SMP Xaverius 6 Lapangan Hatta Palembang, saat pembukaan Temu Remaka sedekanat 1 Palembang yang dibuka oleh Rm. Wahyu Tri Haryadi, SCJ. selaku Direktur Karya Kepausan Indonesia Propinsi Sumatera Selatan.

Kegiatan yang diadakan pada tanggal 4-5 Oktober 2008 ini diikuti oleh seluruh Sekolah Menengah Pertama Xaverius, yayasan katholik, beberapa siswa dari sekolah negeri dan perwakilan dari paroki-paroki yang berjumlah 472 orang anak.

Kegiatan yang bertemakan Menjadi pelayan dan Rasul Yesus Kristus ini melibatkan kepanitiaan dari berbagai organisasi katolik antara lain, Youth Dehonian Comunity (YDC), Kelompok Karyawan Muda Katholik (KKMK), Susteran Charitas dan guru-guru sekolah yang bersangkutan.

Peserta diajak berdinamika sambil bernyanyi yang dipandu oleh Tim Animasi dari kelompok YDC. Pada awalnya mereka masih merasa canggung untuk bernyanyi dan bergoyang, namun lambat laun merekapun terbiasa.

Dalam dinamika kelompok kecil, mereka diajak untuk saling mengenal satu sama lain di dalam kelompok. Agar suasana ceria, dalam perkenalan mereka larut dalam lagu syik-asyik. Mereka semakin larut dalam dalam keakbraban melalui permainan cinta kasih, Lu la lu, Tepuk Kasih dan Tali Kasih.

Setelah perut kenyang, peserta diberikan kebebasan untuk mengekpresikan diri. Mereka diberi waktu untuk bermain ataupun mengunjungi stand-stand yang ada dalam tajuk Mall Remaka. Ada yang asyik bermain futsal dan basket. Atau ada juga yang serius bermain bowling mini dan lempar gelang untuk mendapatkan hadiah. Ada pula yang mengunjungi stan-stand yang menyajikan berbagai aksesoris rohani, serta sebagaian lagi sibuk untuk membersihkan diri alias mandi.

Di sesi materi per kelompok, peserta diajak untuk memahami dan menghayati perjalanan St. Paulus. Masing-masing kelompok dibagi dalam tiga kelompok kecil yang masing-masing kelompok kecil diberi tugas antara lain Menyusun potongan-potongan ayat-ayat dalam Kitab Suci, Menyusun puzzle St. Paulus dan Membuat Tepuk St. Paulus. Setelah itu, mereka diminta untuk menyampaikan di dalam kelompok apa yang telah mereka bahas dan makna apa yang mereka dapatkan. Kelompok yang bertugas membuat tepuk Paulus mengajarkan kepada teman-temannya, karena tepuk tersebut akan mereka pergunakan sebagai ciri memperkenalkan kelompok mereka.

Dalam pengambilan makanan dan snack pun dibuat dalam permainan, dimana peserta wajib mengumpulkan sejumlah kupon yang diminta, jika telah mencukupi mereka baru dapat menerima konsumsi. Apabila jumlahnya masih kurang maka peserta tidak dapat menerima konsumsi, maka mereka harus terus mencari teman yang lainnnya hingga jumlah kupon mereka cukup. Permainan ini bertujuan agar mereka dapat mengenal lebih banyak teman, tidak hanya di dalam kelompoknya saja.

Malam harinya masing-masing sekolah menampilkan atraksi-atraksi yang disajikan dalam pentas seni. Berbagai jenis atraksi yang mereka menyajikan antara lain tarian daerah, band, drama. Rekan-rekan yangn lain menyaksikan kebolehan dan keberanian mereka di atas panggung dengan antusiuas.

Malam semakin larut, sebelum istirahat, peserta diajak masuk dalam suasana renungan yang diakhiri dengan malam puncak yaitu api unggun. Dimana api yang melambangkan Roh Kudus Turun dari Atas Langit menyambar tumpukan kayu-kayu dan Api Kristus menyala. Perlahan-lahan api pun merambat ke atas dan kobaran api tersebut membentuk tulisan REMAKA.

Setelah api berkobar, pesera larut dalam suasana penuh kasih dengan memberikan lilin kepada teman-teman yang mereka kasihi dalm tajuk Lilin Kasih. Lilin-lilin tersebut terus berpindah tangan dan diakhiri dengan penanaman lilin-lilin tersebut di sekitar api unggun yang mereka bentuk sesuai dengan imajinasi mereka.

Perwakilan kelompok mendekati 5 titik api yang melambangkan 5 benua, mereka mewakili teman-temannya untuk membakar niat mereka, niat untuk menjadi pelayan dan rasul Yesus Kristus ataupun niat menjadi St. Paulus di zaman sekarang.

Doa penutup mengakhiri kegiatan pada hari pertama.

Siswa-siswa Seminari Menengah St. Paulus tak mau ketinggalan untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini, mereka menyajikan drama Pertobatan St. Paulus. Setelah menyaksikan drama tersebut peserta diajak untuk memahami perjalanan St. Paulus yang dipandu oleh para pendamping-pendamping kelompok dalam suasana yang santai.

Tak terasa hari semakin siang, ada pertemuan ada pula perpisahan, Acarapun ditutup dengan perayaan ekaristi memperingati Hari Minggu Misionaris yang dipimpin oleh Rm. Patris Pa, SVD. Direktur Nasional Karya Kepausan Indonesia.

Perayaan ekaristi yang sangat sederhana ini dimulai dengan perarakan bendera dan diwarnai pementasan anak-anak dalam drama yang ceritanya diambil dari bacaan pada hari minggu tersebut dan lagu-lagu yang mereka dapatkan dalam kegiatan ini.

Biarkan anak-anak itu datang pada-Ku dan semakin mencintai Yesus Kristus.(pyn)

October 24th, 2008 at 8:20 pm and tagged ,  | Comments & Trackbacks (2) | Permalink

Butuh waktu lebih dari setahun untuk menjadikan saya seorang YDC (Youth Dehonian Community). Ini tentu bukan tanpa alasan. Saya berjumpa dengan YDC sekitar tahun 2006 via dunia maya alias internet. Mulanya karena ada seorang teman yang minta tolong dimasukkan sebagai anggota milis YDC. Berhubung milis ini berbau “Dehon” dan saya merasa mengenal nama itu, maka saya pun “nyemplung” di milis tersebut. Beberapa kali saya diajak untuk ikut pertemuan, tentu juga dengan maksud agar saya menjadi anggota sah dari YDC. Saya tidak mau. Kenapa? Saya skeptis. Saya harus jujur bahwa selama ini saya sering kali mengikuti dan memantau perkembangan organisasi orang muda (khususnya OMK-Orang Muda Katolik), dan dalam hati saya sering merasa kecewa dan tidak puas. Wadah-wadah OMK memiliki banyak cita-cita yang begitu mulia, namun dalam prakteknya, wadah-wadah ini menjadi wadah kongkow-kongkow, tempat dimana kaum muda ngumpul, ngobrol, nggosip, ngrokok dan have fun. Memang saya yakin tidak semuanya seperti itu, tapi kebetulan yang saja jumpai ya yang seperti itu. Berangkat dari pengalaman ini, saya ingin tahu sejauh mana YDC berkembang dan bagaimana YDC bisa tampil beda dengan organisasi kaum muda lainnya. Itu sebabnya saya hanya mengudara sebagai simpatisan.

Butuh beberapa orang yang ahli dalam hal “YDC” untuk bisa meyakinkan saya bahwa YDC bukanlah saingan mudika atau wadah-wadah kongkow orang muda. YDC lebih mengarah kepada suatu semangat, suatu spiritualitas, spiritualitas Pater Dehon (sebenarnya kurang tepat bila dikatakan spiritualitas P.Dehon, karena sebenarnya adalah Spiritualitas Hati Kudus Yesus menurut P.Dehon). Pater Dehon mengajak setiap orang untuk mencintai Allah yang telah lebih dahulu mencintai manusia melalui Hati Kudus Yesus. Dengan mencintai Hati Kudus Yesus, kita mencintai Allah Bapa. Ada 3 cara/tindakan yang diwariskan oleh Pater Dehon yakni Love (Cinta Kasih), Readiness (Siap Sedia), dan Sacrifice (Pengurbanan). Ketiganya biasa disebut: LORESA oleh para YDC.

Karena tujuan tulisan saya ini bukan untuk mengupas apa itu LORESA, maka saya hanya memberi keterangan super-singkat dan sangat dangkal tentang 3 hal ini. Love-Cinta Kasih mengacu pada perbuatan cinta kasih yang sifatnya universal dan tanpa batas apapun. Lebih tepat disebut unconditional love (cinta tanpa syarat). Readiness-Siap Sedia mengacu pada sikap bersedia menerima kehendak Allah apapun itu. Sacrifice-Pengurbanan mengacu pada sikap rela berkurban untuk dapat mencintai Allah Bapa dan untuk dapat membuat Allah Bapa semakin dimuliakan (pemulihan). LORESA inilah yang menjadi semangat YDC.

LORESA hampir selalu menjadi salam dan slogan yang tak pernah ketinggalan bagi YDC. Banyak SMS, offline message-chat, dan email dari teman-teman YDC yang bertuliskan: LORESA. Saya jadi bertanya-tanya: Apakah LORESA benar-benar mempengaruhi kehidupan seorang YDC? Dalam pemikiran saya, bila LORESA memang mempunyai pengaruh baik, maka paling tidak, akan membawa perubahan (sekalipun kecil dan tak tampak) bagi orang yang menghayati dan mempraktekannya. Tapi bila tidak ada perubahan, maka LORESA benar-benar hanya menjadi slogan YDC dan ini berarti pula bahwa YDC sama saja dengan wadah tempat muda-mudi berkumpul.

Rasanya tidak adil bila pertanyaan itu saya ajukan pada teman-teman YDC tanpa menodongkannya pada diri saya sendiri. Maka, tulisan ini adalah jawaban saya atas pertanyaan tersebut.

Pengalaman Love

Sejak kecil saya adalah seseorang yang sangat pendiam, namun temperamen dan emosional. Emosi saya yang sering muncul adalah kemarahan. Ketika saya masih di bangku sekolah, banyak orang yang tidak saya sukai. Orang-orang yang tidak saya sukai adalah orang-orang yang pernah melukai dan menyakiti saya baik secara fisik maupun psikis (apalagi saya termasuk korban ‘school bullying’/penggencetan-intimidasi oleh sesama murid). Saya juga tidak senang dengan orang-orang yang tidak sejalan dengan pemikiran saya. Orang-orang yang bermasalah dengan saya bisa saya benci setengah mati. Pokoknya prinsip saya waktu itu adalah do-ut-des: saya memberi maka saya menerima. Saya mengasihi kamu kalau kamu mengasihi saya. Cinta kasih saya kepada sesama begitu terbatas dan penuh dengan syarat ini-itu.

Setelah saya menjadi seorang YDC, saya mulai ter-ekspose pada kasih Allah yang tak terbatas. Yang diomongkan dalam YDC tentu tidak lepas dari Hati Kudus Yesus. Hati inilah yang senantiasa mengasihi saya tanpa batas. Entah bagaimana caranya Allah bekerja, namun perlahan-lahan saya mulai merasakan bahwa Cinta Kasih Allah demikian banyak dan tak terbatas. Terlalu banyak sehingga tidak mampu saya habiskan sendiri. Saya harus membagikannya kepada orang lain. Apa yang terjadi? Semakin banyak saya bagi, semakin banyak saya merasa menerima dari Allah, semakin besar pula keinginan saya untuk mencintai sesama. Kasih itu tiada habisnya, maka saya merasa tidak mampu bila hanya memberi kepada mereka yang saya kasihi. Lebih dari itu, muncul pula keinginan untuk mengasihi orang-orang lain yang mungkin tidak terlalu dekat, bahkan yang mungkin tidak saya kenal. Lambat laun kasih ini juga mengalir kepada mereka yang tidak saya sukai. Saya ingat dengan orang-orang yang saya benci (dan mungkin juga membenci saya). Biasanya saya menjadi marah bila ingat dengan orang-orang yang mengganggu ketentraman hidup saya. Namun seiring dengan permenungan saya tentang kasih Tuhan, lama-lama saya malah bisa mengampuni mereka. Rasa marah berubah menjadi rasa iba, prihatin dan belas kasih (terutama bagi mereka yang pernah menyakiti saya). Litani sumpah serapah berubah menjadi rangkaian doa pengampunan. Bahkan pernah pula saya sampai pada kesimpulan perasaan: semakin saya dilukai, semakin ingin saya mencintai. Akhirnya saya bisa mengerti, bahwa cinta kasih tak terbatas dan tanpa syarat inilah yang membuat Yesus bisa bertahan di salib. HatiNya dilukai oleh dosa-dosa manusia, tetapi dari lubang deraan dosa kita itulah Kasih Allah mengalir tanpa batas. Semakin banyak lubangnya, semakin deras aliran kasihNya. (Tentu ini bukan berarti lalu kita menyakiti Hati Allah seenaknya!)

Entah apa yang terjadi, namun saya berani mengatakan bahwa sekarang saya memiliki cinta kasih yang lebih luas daripada sebelumnya.

Pengalaman Readiness

Sebenarnya saya tumbuh sebagai seorang muda yang pesimis dan tidak berani ambil resiko. Saya tidak akrab dengan kata ‘resiko’. Pendidikan yang saya terima mengharuskan saya selalu menghindari resiko atau bahkan menghilangkan resiko dengan perencanaan yang matang. Semuanya harus terjamin berhasil dengan baik. Bisa dikatakan seorang perfeksionis. Akibatnya saya menjadi orang yang serba takut untuk berbuat dan kuatir untuk maju meski hanya selangkah.

Inilah yang menjadi salah satu masalah ketika saya ‘magang’ beberapa bulan di Rumah Retret Giri Nugraha (RRGN). Banyak kejadian tidak terduga yang saya alami. Banyak kejadian di luar perencanaan yang membuat hati saya ciut untuk terus melayani gerejaNya. Namun syukurlah, di kota ‘base camp’ YDC itulah hampir setiap hari saya berjumpa dengan teman-teman yang berslogan: “LORESA”. Saya kagum dengan mereka yang selalu siap untuk melayani dan tanggap terhadap kebutuhan Gereja, tanpa banyak perhitungan, tanpa banyak peduli dengan resiko. Akhirnya, mau tidak mau, saya pun mulai ketularan mereka. Pikir saya, mereka juga orang-orang muda yang sama dengan saya. Kami sama-sama tidak tahu apa yang akan terjadi dalam setiap langkah dan tindakan kami, karena itu perlu sikap berani berhadapan dengan resiko.

Readiness saya pandang sebagai suatu sikap siap-sedia menerima kehendak Allah. Dalam suatu refleksi, saya menemukan bahwa kehendak Allah bisa dipandang enak-gak-enak, baik atau buruk di mata manusia, namun di hadapan Allah semuanya itu baik. Allah yang saya kenal adalah Allah yang baik yang pasti selalu memberikan yang baik kepada semua ciptaanNya. Maka apapun yang terjadi dalam kehidupan manusia, pasti ada dalam rencana kebaikan Allah.

Pengalaman dan kejadian-kejadian tak terduga (atau bisa saya kategorikan sebagai pengalaman yang tidak menyenangkan bagi saya) di RRGN, saya coba olah dalam terang kasih Allah yang baik. Pernah suatu kali saya terlibat dalam masalah yang cukup besar oleh karena suatu kesalahan yang saya buat. Semua yang terjadi sungguh di luar dugaan. Hari itu benar-benar adalah hari dimana saya di-skak mat. Saya tahu resiko terberat dari kesalahan saya itu adalah, saya dipulangkan. Suatu resiko yang berat dan memalukan.

Dalam kesedihan dan kegelisahan, saya mencoba untuk membawa semua ini ke dalam kata “Readiness”. Saya menemukan bahwa siap-sedia juga berarti berani menerima resiko sebagai kehendak Allah yang baik. “Tuhan telah menghajar aku dengan keras, tetapi IA tidak menyerahkan aku kepada maut”. Bila saya harus pulang, maka saya akan pulang dengan pandangan bahwa Allah-lah yang menghendaki saya pulang. Saya tidak perlu malu, toh saya pulang karena Allah menghendakinya. Saya juga akan menerima kepulangan saya sebagai resiko dan pertanggungjawaban dari tindakan saya. Saya tidak mau melarikan diri. Hari itu saya juga dibawa pada pengalaman Yesus yang senantiasa bersedia menerima kehendak Allah, sekalipun dalam pandangan manusia itu adalah sesuatu yang buruk. Tapi Yesus mengajak saya untuk melihat HatiNya yang senantiasa terbuka terhadap kehendak Allah dan yakin bahwa kehendak Allah BapaNya itu adalah kehendak yang selalu membawa keselamatan dan kebaikan bagi semua orang. Disini Yesus mengajak saya untuk berani menerima salib sebagai resiko sebuah pelayanan bagi Gereja.

Terus terang sampai sekarang saya belum menjadi orang yang berani mengambil resiko, namun perubahan yang benar-benar saya rasakan ialah saya menjadi orang yang siap menerima resiko.

Pengalaman Sacrifice

Setiap kali mengingat Yesus yang tersalib, rasanya tidak ada lagi yang perlu diterangkan tentang kata “Pengurbanan”. Yesus yang tersalib sudah cukup menerangkan dan memberikan contoh nyata apa itu pengurbanan. Namun, untuk melengkapi tulisan ini, saya mengupas sedikit makna dari Sacrifice.

Pengurbanan bagi saya adalah suatu tantangan yang harus ada bagi para pengikut Yesus. Pengurbanan adalah sebuah tanggapan atas tawaran untuk meninggalkan kepentingan diri sendiri demi terlaksananya Karya Keselamatan Allah. Semenjak saya mulai menjadi orang Katolik (saya dibaptis pada usia remaja) saya mulai merasa bahwa pengurbanan selalu ada. Misalnya, mengurbankan waktu jalan-jalan bersama keluarga di hari Minggu untuk pergi ke Gereja. Pengurbanan semakin bertambah ketika saya mulai terlibat dalam beberapa kegiatan gerejawi. Rasanya pelayanan tidak pernah tidak tanpa pengurbanan. Selalu ada saja yang dikurbankan, entah waktu entah tenaga, entah yang lainnya sampai juga mengorbankan perasaan.

Rela? Ya jelas, apalagi kalau itu memang pilihan sendiri untuk melayani Gereja. Selalu berkorban dengan senang hati? Waduh, belum tentu! Reaksi terhadap pengurbanan sering kali mengacaukan kemurnian nilai pengurbanan itu sendiri. Entah berapa kali saya bersungut-sungut bila menyangkut pengorbanan. Saya masih ingat bagaimana BT-nya ketika lagi-lagi Misa pk.06:00 tidak ada misdinar dan saya didaulat untuk melayani Misa. Bahkan sampai ada umat yang nyeletuk: “Dia lagi…dia lagi” (‘Masih bagus ada yg mau misdinarin! Kalo nggak inget buat Gereja aku juga milih tidur di rumah!’ umpatku dalam hati). Tapi itu duluuu….

Kehadiran teman-teman YDC yang aktif dan selalu berusaha meninggalkan diri sendiri bagi Gereja dan Masyarakatnya, mengingatkan saya kepada semangat LORESA. Perkataan LORESA senantiasa membawa saya kembali kepada Hati Yesus. Saya memandang bagaimana Hati Yesus itu selalu berkorban. Hati Yesus selalu menanggapi tawaran untuk meninggalkan kepentingan diri sendiri demi sesuatu yang lebih luhur, demi terlaksananya karya cinta kasih Allah Bapa. Yesus juga mempersembahkan segala pengorbananNya kepada Allah Bapa dengan perkataan: “Ya Bapa, ke dalam tanganMu, Kuserahkan nyawaKu”. Sungguh ini adalah suatu pengorbanan yang total dan sempurna.

Dalam beberapa permenungan saya merasakan: apalah artinya pengurbanan saya ini bila dibandingkan pengurbanan Yesus? Itupun saya masih pakai ngomel! LORESA mengingatkan saya untuk berani mempersembahkan pengurbanan saya yang kecil itu dalam persatuan dengan pengurbanan Yesus. Maka, dengan perasaan kecil, saya mempersembahkan pengurbanan-pengurbanan yang saya lakukan, walaupun pengurbanannya tercampur dengan reaksi-reaksi negatif saya. Saya yakin Tuhan menyempurnakannya melalui Hati Kudus Yesus, Sang Kurban Sejati.

Saya tidak tahu apa yang terjadi dan mengapa, namun saya bisa merasakan adanya perubahan dalam diri saya. Saya tidak lagi merasa jengkel bila harus mengangkat telepon jam 2 pagi hanya untuk mendengarkan teman yang pengen curhat. Saya tidak lagi mengomel bila tiba-tiba orang tua saya menyuruh sesuatu disaat saya sedang asyik dengan komputer. Bahkan saya juga tidak mengeluh bila pulsa saya habis hanya untuk sekedar membalas sms 6 huruf: Loresa

Entah bagaimana menerangkannya, namun pengurbanan malah terasa semakin manis dan membahagiakan bila dipersembahkan kepada Allah Bapa melalui Hati Kudus Yesus. Tentu saja, ini menambah semangat saya untuk semakin peka terhadap kebutuhan Gereja dan rela untuk meninggalkan diri saya demi memenuhi kebutuhan tersebut.

Kembali ke judul pokok tulisan ini. Tulisan saya ini bukan mau menunjukkan bahwa saya sudah berubah menjadi orang yang suci gara-gara LORESA. No! Perubahan yang terjadi dalam diri saya semata-mata hanya karena kebaikan Allah sendiri. Saya hanya mau mengatakan bahwa saya sungguh merasakan bagaimana warisan Pater Dehon ini memang membawa pengaruh baik dalam hidup fisik, psikis maupun rohani saya. Tentunya hal yang serupa juga akan terjadi pada semua orang yang mau ikut menghayati warisan Pater Dehon ini, entah sebagai OMK atau OTK (termasuk juga kaum awam dan selibater). Maka dengan tulisan yang sangat sederhana dan dangkal ini saya berharap, para YDC berani menyelam lebih dalam, masuk ke dalam pemaknaan LORESA dalam keseharian hidupnya sehingga akhirnya LORESA bukan hanya nampak sebagai slogan melainkan menjadi suatu semangat “3 in 1” yang benar-benar memperkaya dan memperkuat kehidupan OMK secara keseluruhan. Saya juga berharap bahwa YDC dijaga bersama agar tetap murni sebagai suatu wadah spiritual yang memuliakan Allah melalui Hati Kudus Yesus dan bukan hanya sekedar wadah untuk kongkow-kongkow belaka.

Vivat Cor Jesu!

irene-YDC

October 15th, 2008 at 10:14 pm and tagged  | Comments & Trackbacks (1) | Permalink

Thursday, Jun. 12, 2008 Posted: 9:01:13AM PST

Arkeolog yang melakukan penggalian di Yordania menemukan apa yang mereka percayai sebagai gereja pertama di dunia, menurut sebuah laporan Senin lalu.

“Kami sudah membuka tentang apa yang kami percaya menjadi gereja pertama di dunia, tertanggal 33 M. sampai 70 M.,” kata sejak Abdul Qader al Hussan, ketua Jordan Rihab Center for Archaeological Studies, kepada The Jordan Times.

Dia menambahkan bahwa penemuan tersebut sangat “menakjubkan.”

Gereja yang ditemukan di bawah tanah gereja Saint Georgeous di Rihab, Mafraq, di Yordania utara dekat perbatasan Suriah itu diperkirakan berusia hampir 2.000 tahun . St Georgeous didirikan pada 230 M., dan dianggap sebagai gereja “yang sesungguhnya” tertua di dunia.

Hussan mengatakan timnya mempunyai bukti yang dapat dipercaya bahwa gereja ini menjadi tempat perlindungan orang Kristen- 70 murid Yesus Kristus itu.

Ke-70 orang Kristen mula-mula ini sepertinya telah melarikan diri dari penganiayaan di Yerusalem, khususnya terhadap Rihab, dan gereja tersebut didirikan di Yordania utara. Sumber-sumber sejarah, menurut Hussan, mengisyaratkan ke-70 umat Kristiani pertama hidup dan menjalankan kepercayaan mereka di gereja bawah tanah dan hanya pergi ketika agama Kristen dipeluk oleh penguasa Roma. “Masa itulah St Georgeous dibangun, “kata Hussan mengamati.

Gereja bawah tanah digambarkan sebagai gua dengan beberapa tempat duduk batu yang dipercaya digunakan bagi pastoral dan sebuah bidang di sekelilingnya, diperkirakan sebagai apse-sebuah tempat yang biasanya altar diletakkan.

“Sebuah tembok dengan sebuah pintu masuk adalah satu-satunya sekat yang memisahkan altar dengan tempat tinggal,” lapor Hussan. Ada juga sebuah terowongan dalam gua yang diperkirakan menuju ke mata air, katanya.

Uskup Deputi dari Greek Orthodox Archdiocese Archimandrite Nektarious menggambarkan penemuan tersebut sebagai tonggak bersejarah penting bagi orang Kristiani di seluruh dunia.

“Satu-satunya gua lain di dunia yang bentuk dan tujuannya mirip ada di Thessalonika, Yunani,” kata uskup, menurut The Jordan Times.

Pejabat di Kementerian Pariwisata Yordania mengatakan mereka bermaksud mempergunakan penemuan tersebut untuk memajukan kepariwisataan di daerah tersebut dalam waktu dekat.

Sekitar 30 gereja sudah ditemukan di Rihab, menurut Hussan, dan Yesus dan Maria diperkirakan pernah melewati tempat tersebut.

Ethan Cole Koresponden Kristiani Pos

Copied by http://christianstudies.multiply.com/journal/item/39/Gereja_Pertama_Ditemukan

October 15th, 2008 at 10:05 pm and tagged ,  | Comments & Trackbacks (0) | Permalink